Selasa, 05 Januari 2016

Media Sosial Dalam Konteks Public Relations


Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah memengaruhi praktek-praktek dalam bidang kerja komunikasi, termasuk Public Relations (PR). Dalam konteks PR, media sosial menyediakan saluran tambahan untuk berkomunikasi dengan target publik. Media sosial, dengan berbagai karakteristiknya, menuntut PR untuk menyesuaikan diri. Hadirnya media sosial menjadikan komunikasi bersifat dua arah, meruntuhkan paradigma kontrol pesan, dan menciptakan bentuk baru dalam memonitor dan menganalisis media (Grunig, 2009; Macnamara, 2010).
Kehadiran media sosial telah mengubah cara para praktisi dalam berpikir dan melaksanakan praktek-prakteknya dan beranggapan bahwa hal ini merupakan sebuah kekuatan revolusioner dalam bidang PR. Melalui optimalisasi potensi media sosial maka praktek PR akan lebih mendunia, lebih strategis, semakin bersifat komunikasi dua arah dan interaktif, simetris atau dialogis serta lebih bertanggungjawab secara sosial. Hal ini cukup dapat mendasari bahwa pada era baru ini media sosial dapat menjadi salah satu media yang digunakan dalam strategi PR untuk berkomunikasi dengan publiknya (Grunig, 2009).
Namun media sosial tidak semata sebagai sebuah alat komunikasi. Artinya, peran PR yang berhubungan dengan media sosial tidak hanya dalam level teknis komunikasi. Adanya media sosial memungkinkan PR juga melakukan peran manajerial, di mana praktisi PR terlibat dalam pengambilan keputusan strategis organisasi serta memberikan masukan kepada jajaran manajemen atas (Grunig, 2009). Kehadiran media sosial memungkinkan PR untuk terlibat dalam peran manajemen strategis organisasi (McDonald dan Hebbani, 2011). Praktisi PR yang punya kompetensi menggunakan media sosial mendapatkan pengakuan dalam proses pengambilan keputusan organisasi atau perusahaan (Diga dan Kelleher, 2009).
Salah satu peran manajerial PR berkaitan dengan media sosial adalah keterlibatan dalam penyusunan peraturan media sosial untuk kalangan internal perusahaan. Peran sebagai pembuat kebijakan media sosial, menurut pandangan Breakenridge, memang belum terlalu populer namun hal tersebut mendesak untuk dilakukan: “[A] once less known and vacant spot needs to be filled quickly” (2012, h. 8).
Media sosial memang ibarat ”pedang bermata dua” bagi perusahaan atau organisasi. Di satu sisi memang memudahkan berkomunikasi dengan publik baik itu internal mau pun eksternal. Namun di sisi lain, karyawan kadang tak mempertimbangkan risiko penggunaan media sosial. Karena ketidakhati-hatian tersebut, karyawan mungkin mem-posting informasi sensitif atau menuliskan hal-hal yang buruk terkait perusahaan sehingga merusak reputasi perusahaan tersebut. Untuk mengantisipasi hal tersebut, perusahaan perlu memiliki kebijakan terkait media sosial.

Media Sosial dan Peran Manajerial PR

Pada umumnya literatur membahas tentang bagaimana PR menggunakan media sosial dengan baik untuk berkomunikasi, padahal media sosial tidak hanya sekadar piranti komunikasi semata. Tugas PR tidak hanya merancang dan menyebarkan pesan-pesan dari organisasi melalui media sosial.
Di sisi lain, PR bisa memberikan kontribusi lebih bagi organisasi, yakni di tataran manajerial. Kontribusi tersebut baru bisa terwujud ketika PR berperan dalam pengambilan keputusan organisasi. Ketika PR berpartisipasi atau memiliki akses kepada pengambilan keputusan, kontribusi PR adalah mengidentifikasi konsekuensi, pemangku kepentingan, publik, dan hasil dari keputusan atau hal-hal apa saja yang perlu menjadi perhatian manajemen. Misalnya, media sosial atau media digital menawarkan pemantauan isu yang lebih luas dibanding jika hanya memantau berita-berita di media konvensional seperti surat kabar atau televisi (James 2007; Grunig, 2009).
Namun begitu urusan pemantauan dan evaluasi ini juga belum dimanfaatkan dengan maksimal. Sejumlah penelitian menemukan kurang dari 40 persen praktisi PR tidak memantau apa yang dibicarakan oleh publik strategis eksternal di blog atau media sosial lain tentang organisasi, dan hanya 25 persen responden mengukur apa yang dibicarakan oleh karyawan (kalangan internal) tentang organisasi mereka di media sosial (Macnamara, 2010b). Sementara penelitian Wright (2012) menunjukkan dalam tiga tahun terakhir tidak sampai 50 persen praktisi PR yang menjadi responden, memantau media sosial tentang apa yang dibicarakan publik eksternal tentang organisasi mereka. Angka presentasenya semakin rendah dalam hal pemantauan komunikasi di media sosial yang dilakukan kalangan internal perusahaan, yakni di bawah 30 persen.
Jika ditarik lebih jauh lagi, media sosial juga bisa memberikan manfaat bagi PR itu sendiri, yakni mendapatkan pengakuan lebih dari organisasi tempat mereka bernaung. Hal ini berpijak pada pendapat sejumlah ahli mengenai kehadiran internet bagi PR. Penggunaan World Wide Web oleh praktisi PR mampu meningkatkan peran praktisi PR – baik itu peran teknis atau manajerial – dan meningkatkan status mereka di organisasi. Penggunaan internet untuk pencarian informasi dapat meningkatkan keahlian dan posisi struktural praktisi PR (James, 2007). Dalam penelitiannya, Diga dan Kelleher (2009) menyimpulkan praktisi PR yang memiliki kompetensi dalam menggunakan media sosial mendapatkan pengakuan dari segi struktural, keahlian, dan wibawa (prestis).
Peran PR dalam tataran manajemen organisasi juga mencakup dalam hal kerjasama atau koordinasi dengan departemen yang berbeda-beda. Menurut James (2007) kehadiran internet dan media sosial menuntut organisasi atau perusahaan menyediakan informasi secara cepat dan akurat kepada publik. Faktor ini mungkin akan memberikan tekanan bagi praktisi PR dan tim di mana mereka bekerja. Tekanan juga terjadi pada hubungan antara praktisi PR dengan divisi atau departemen lain, atau staf di jajaran senior, secara khusus CEO dan lingkaran di sekitarnya. Selain itu tekanan juga terjadi pada hubungan dengan divisi teknologi informasi/IT jika tidak tersedia akses langsung untuk upload ke website korporat. Praktisi PR mungkin harus menjalin hubungan yang lebih kuat dengan departemen IT dan mungkin harus terlibat dengan penasehat hukum organisasi dalam rangka untuk menentukan prosedur konten ketika konten diminta secara langsung untuk muncul.
 Riset menunjukkan bahwa praktisi PR yang menggunakan teknologi baru seperti blogging mendapatkan pengakuan lebih dalam organisasi bahwa PR tersebut memiliki power. Beberapa praktisi mungkin akan mendapati diri mereka bekerja dengan pengambil keputusan kunci di organisasi yang tidak menguasai media tersebut, dan pada akhirnya, PR bekerja dengan pengambil keputusan yang sangat peduli dengan perkembangan media dan ingin menggunakan semuanya tanpa mempertimbangkan implikasi sepenuhnya.

Jenis Media Sosial

Menurut Kaplan and Haenlein dalam Yulianita [19] terdapat banyak varian pengelompokkan bentuk media sosial, terbagi atas enam bentuk, yaitu:
1. Collaborative projects (contoh, Wikipedia)
2. Blog dan microblog (contoh, Twitter)
3. Content communities (contoh, Youtube)
4. Social Networking sites (contoh, Facebook)
5. Virtual game worlds (contoh, World of Warcraft)
6. Virtual Social Worlds ( contoh, Second Life).

Selasa, 24 November 2015

8 Prospek Kerja Terbaik
Lulusan Ilmu Komunikasi

Kita tidak bisa untuk tidak berkomunikasi. Segala hal yang kita lakukan, dalam tujuan apapun, tentu memerlukan proses komunikasi. Proses menyampaikan pesan dari komunikator (penyampai pesan) kepada komunikan (penerima pesan) melalui suatu media atau cara hingga akhirnya menimbulkan suatu efek atau timbale balik, mungkin terlihat begitu sederhana. Namun, apa sih yang sebenarnya dipelajari di dunia komunikasi ini?
    
Seiring dengan berkembangnya zaman, waktu dan teknologi yang kian pesat, tentu segala unsure hidup kita menerima banyak pengaruh dari hal – hal baru. Hal – hal baru tersebut tentu mempengaruhi cara kita berkomunikasi. Cara berkomunikasi manusia jaman purba, jaman 90-an, dan saat ini, tentu berbeda – beda bukan? Nah, dengan menjunjung tinggi modernitas, studi Ilmu Komunikasi terus menjadi bidang ilmu yang kritis untuk selalu menyajikan strategi yang tepat untuk menyampaikan suatu pesan, tergantung pada konteksnya, unsurnya, hingga isi pesannya.
    
Seperti yang kita ketahui, studi Ilmu Komunikasi memiliki cabang yang cukup banyak. Broadcasting, jurnalistik, public relations, advertising, manajemen media, komunikasi pemasaran, komunikasi massa, komunikasi bisnis, dan masih banyak lagi. Biasanya, bila kita memilih salah satu dari cabang Ilmu Komunikasi tersebut, kita juga paham akan cabang – cabangnya yang lain. Namun, pada cabang Ilmu Komunikasi yang kita pilih itulah kita akan menjadi ahli di dalamnya. Lantas, apa saja sih, prospek kerja lulusan Ilmu Komunikasi dengan gelar S.Ikom ini? Yuk, kita simak bersama – sama.
 
Image Credit
1. Broadcaster / Tenaga di dunia penyiaran
Menjadi produser, sutradara, reporter, copy writer dan lain – lain yang terlibat dalam dunia penyiaran, adalah salah satu prospek kerja yang paling empuk dari dunia Ilmu Komunikasi. Seperti yang kita ketahui, bahwa dunia penyiaran pada dasarnya ialah proses menyampaikan suatu pesan melalui media massa seperti televisi, radio ataupun surat kabar kepada masyarakat. Nah, dalam proses penyampaian pesan itulah lulusan Ilmu Komunikasi dituntut untuk dapat menentukan strategi agar pesan yang disampaikan mudah diterima oleh masyarakat sesuai dengan segmentasinya. Bidang kerja broadcasting  biasanya ditempatkan di stasiun televisi, radio, ataupun kantor – kantor surat kabar, tabloid maupun majalah.
 
2. Jurnalis
Jurnalistik adalah bagian dari Ilmu Komunikasi. Studinya yang mempelajari bagaimana mengemas suatu berita menjadi sebaik mungkin untuk dapat disebarkan ke masyarakat luas, merupakan salah satu bentuk bagaimana seseorang dapat menyampaikan pesan secara efektif melalui suatu media. Dalam dunia Ilmu Komunikasi, jurnalistik merupakan mata kuliah wajib yang harus dipelajari. Kemampuan menulis, peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya, serta kemampuan menyampaikan dan memilih memilah mana berita yang layak untuk disebarkan dan mana yang tidak layak disebarkan, menjadi beberapa hal yang bisa diperoleh dari mempelajari jurnalistik. Jurnalistik memang ilmu yang dapat dipelajari oleh siapapun, tidak harus lulusan Ilmu Komunikasi. Namun, lulusan Ilmu Komunikasi tentu memiliki kemampuan yang lebih dalam dunia jurnalistik ini. Bidang kerja dari seorang jurnalis antara lain menjadi reporter, news anchor (penyiar berita), news dubber, wartawan media massa, baik di televisi, radio ataupun surat kabar cetak.
 
3. Announcer dan presenter
Kemampuan menyampaikan pesan dengan baik dan dapat menarik perhatian khalayak, tentu menjadi bagian yang dipelajari oleh lulusan Ilmu Komunikasi. Kemampuan tersebut pun sangat dibutuhkan untuk menjadi seorang announcer atau penyiar radio, hingga menjadi seorang presenter di televisi, baik untuk acara olahraga, berita resmi, gossip, dan lain – lain. Lulusan Ilmu Komunikasi selalu dituntut untuk pandai berbicara dengan efektif dalam menyampaikan maksud dan tujuannya. Hal tersebutlah yang menjadikan posisi penyiar atau presenter menjadi sasaran yang tepat sebagai prospek kerja lulusan Ilmu Komunikasi.
 
4. Master of Ceremony (MC)
Bila announcer dan presenter hanya tertuju dalam sebuah media massa saja, maka pekerjaan sebagai MC pun bisa diposisikan dalam berbagai perhelatan event. Menjadi MC tentu membutuhkan kualitas gaya bicara yang baik, pandai menempatkan diri, dan mampu membawa acara menjadi sesuai harapan. Unsur – unsure komunikasi tentu terdapat di dalamnya. Meskipun bisa dipelajari secara otodidak, namun lulusan Ilmu Komunikasi tentu memiliki keahlian menjadi MC yang dipelajari dalam studinya.
 
5. Public Relations Officer atau Hubungan Masyarakat
Mewakili perusahaan dalam setiap waktu, menjaga nama baik perusahaan serta mewujudkan hubungan yang harmonis pada seluruh klien perusahaan, menjadi tugas besar dari seorang Public Relations atau humas. Ya, profesi Public Relations juga menjadi prospek kerja yang sangat menjanjikan bagi lulusan Ilmu Komunikasi. Seorang Public Relations harus selalu memutar otaknya untuk menyampaikan pesan – pesan perusahaan kepada masyarakat agar perusahaan yang dikelolanya senantiasa memiliki reputasi yang baik. Menantang, bukan?
 
6. Event Organizer
Merancang perhelatan event yang besar, mengemas sebuah acara sesuai dengan konsep pesan yang ingin disampaikan, hingga mengatur acar sedemikian rupa agar meninggalkan kesan dan reputasi yang baik, adalah beberapa wujud tujuan dari strategi seorang event organizer. Melalui sebuah event, sebuah tim event organizer diharapkan mampu menyampaikan sebuah pesan atau makna tertentu dan mewujudkan good reputation dari si penyelenggara. Disitulah tantangannya. Menjadi event organizer ini sangat asyik, lho. Seperti bekerja sambil bermain. Penghasilannya pun bisa terbilang cukup fantastis. Tertarik?
 
7. Praktisi periklanan / Advertising 
Iklan! Ya, terdengar sepele, namun mempengaruhi kita, kan? Salah satu dalang dan tangan – tangan kreatif di balik berbagai iklan yang bertebaran di berbagai media ini adalah lulusan Ilmu Komunikasi, lho. Mereka berusaha mempengaruhi publik dengan pesan – pesan produk barang ataupun jasa yang ingin disampaikan, melalui pesan dan media yang unik serta kreatif agar siapapun yang melihatnya tergugah untuk membeli, menggunakan ataupun mempercayainya. Proses penyampaian pesan yang menarik, kan! Dalam iklan, semakin menarik dan membuat penasaran, maka semakin sukses dan efektif pula iklan tersebut. Prospek kerja dalam dunia advertising bagi lulusan Ilmu Komunikasi, antara lain sebagai project leader advertising, copy writer, camera person, media planner, dan lain – lain.
 
8. Marketing Communications  
Lulusan Ilmu Komunikasi juga bisa menjadi orang yang duduk manis di kantor, menyusun dan merancang strategi – strategi komunikasi pemasaran yang tepat bagi perusahaan. Ya, menjadi marketing communications tidak semata – mata mengedepankan unsure pemasaran dari ilmu bisnis saja. Lulusan Ilmu Komunikasi diharapkan dapat mejadikan pemasaran menjadi lebih efektif dan menarik, salah satunya dengan menyusun strategi komunikasi yang tepat dilihat dari segmentasinya, bagaimana pesannya, apa medianya dan mau seperti apa tujuan yang diharapkan. Hal ini tentu menantang bagi siapapun yang menjalaninya.
Itulah 8 prospek kerja terbaik bagi lulusan Ilmu Komunikasi. Sesuaikah dengan minat anda?
 
Sumber : http://www.berkuliah.com/2014/07/8-prospek-kerja-terbaik-lulusan-ilmu.html